Senin, 18 Maret 2013

TINGKAT KERAMAHAN LINGKUNGAN ALAT TANGKAP BAGAN

Oleh: 
Rian Juanda, Asep Hamzah, Izza Mahdiana dan Muhammad Ihsan
Mahasiswa Pascasarjana Teknologi Perikanan Laut, IPB

PENDAHULUAN


Bagan merupakan salah satu jaring angkat yang dioperasikan di perairan pantai pada malam hari dengan menggunakan cahaya lampu sebagai faktor penarik ikan. Menurut Subani (1972), di Indonesia bagan diperkenalkan pada awal tahun 1950 dan sekarang telah banyak mengalami perubahan. Bagan pertama sekali digunakan oleh  nelayan Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan, kemudian nelayan daerah tersebut membawanya kemana-mana dan akhirnya hampir dikenal di seluruh Indonesia. Dilihat dari bentuk dan cara pengoperasiannya bagan dibagi menjadi tiga macam, yaitu bagan tancap, bagan rakit dan bagan perahu.

Gambar 1. Salah Satu Jenis Bagan
No
Nama lokal
Lokasi
WPP
Jaring Angkat Menetap
Anco

1
Anco
Kedung, Malang, Jepara, Jawa Tengah
III
Bagan Tancap
1
Bagan Tancap
Serang, Banten
III
2
Bagan Tancap
Bima, Nusa Tenggara Barat
IV
3
Bagan Tancap
Sel Hitam, Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur
IV
4
Bagan Tancap
Palopo, Sulawesi Selatan
IV
5
Bagan Tancap
Oesapa, Kelapa Lima, Kupang, Nusa Tenggara Timur
IX
6
Tangkul
Tangkahan
IX
Jaring Angkat Tidak Menetap
Bagan Rakit
1
Bagan Apung
Berakit, Kepulauan Riau
II
2
Bagan Apung
Solubomba, Banawa, Donggala, Sulawesi Tengah
IV
3
Bagan Apung
Banggae, Majene, Sulawesi Barat
IV
4
Bagan Apung
Labuhan, Pandenglang, Banten
IX
5
Bagan Apung
Teluk Palabuhan Ratu, Sukabumi
IX
Bagan Perahu
1
Bagan Perahu
Karawang
III
2
Tangkul Perahu
Soni, Dampal Selatan, Toli-Toli, Sulawesi Tengah
IV
3
Bagan Perahu
Teluk Sape, Teluk Waworada, Bima, Nusa Tenggara Barat
IV
4
Bagan Perahu
Sel Hitam,Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur
IV
5
Bagan Perahu
Mawasangka, Buton, Sulawesi Tenggara
IV
6
Bagan Rakit
Paku, Binuang, Polewali, Mandar, Sulawesi Barat
IV
7
Bagan Perahu
Abeli, Kendari, Sulawesi Tenggara
IV
8
Bagan Perahu
Manggar, Balikpapan Timur, Balikpapan, Kalimantan Timur
IV
9
Bagan Perahu
Palopo, Sulawesi Selatan
IV
10
Bagan Perahu
Teluk Ambon Baguala, Ambon, Maluku
V
11
Bagan Perahu
Sathean, Tual, Maluku Tenggara
VI
12
Bagan Perahu
Kota Ternate, Maluku Utara
VII
13
Bagan Perahu
Hamadi, Jayapura, Papua
VIII
14
Bagan Perahu
Klalin Pantai, Klalin, Sorong, Irian Jaya Barat
VIII
15
Bagan Perahu
PPN Sibolga, Sumatera Utara
IX
16
Bagan Perahu
PPN Bungus, Kota Padang, Sumatera Barat
IX
17
Tangkul Perahu
Palabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat
IX
18
Tangkul Perahu
Oesapa, Kelapa Lima, Kupang, Nusa Tenggara Timur
IX
19
Bouke Ami
Sekitar Pulau Aru, Irian Jaya
VI
Sibolga, Sumatera Utara, Sekitar Pulau Sumba, NTT
IX

Lingkungan
Sumberdaya Ikan
Biodiversity
Keselamatan Manusia
Fishing boat
Hemat energy; tidak menghasilkan polusi
-
-
Aman bagi nelayan
Fishing gear design and material
Terbuat dari bahan yang pengadaannya tidak merusak lingkungan atau ekosistem  yang dilindungi; jenis
Selektif; low potential of ghost fishing
Tidak mengurangi biodiversity; low potential of ghost fishing
Aman bagi nelayan
Fisherman
Terlatih, memahami dan menerapkan konsep efisiensi dan konservasi
Fishing methods and operations
Tidak merusak lingkungan perairan dan habitat; tidak menimbulkan konflik dengan kegiatan lainnya; sesuai dengan peraturan
Selektif;
Tidak merusak habitat ikan
Tidak mengurangi biodiversity; survival binatang laut lainnya tinggi
Tidak membahayakan nelayan dan orang lain di laut
On-board fish handling
Mereduksi polusi
Menjamin survival dari ikan yang dikembalikan ke laut (discards); memanfaatkan ikan secara maksimum
Melepaskan binatang laut lain;
Menjamin survival binatang laut lain
Aman bagi nelayan
Capture

Ikan yang tertangkap seragam, legal atau proper size,
Tidak menangkap jenis yang dilindungi
Aman bagi konsumen
Jumlah cara pengendalian ikan
Kombinasi dan urutan pengendalian
Mekanisme tertangkapnya ikan
Tg
Tp
Ft
HS
P
1 cara
A
+
R
D
+
2 cara
A-R
A-D
+
+
R-D
D-R
D-A

  1. Perikanan bagan tidak lagi mengkhususkan diri pada alat tangkap dengan hasil tangkapan utama teri seperti saat pertama kali dibuat. Bagan saat ini merupakan alat tangkap yang dapat menangkap berbagai macam ikan pelagis dengan fototaksis positif. Sehingga perlu disesuaikan mata jaring serta ikan hasil tangkapan yang bisa ditangkap.
  1. Perlu ada substitusi bahan pembuat alat tangkap selain bambu.
  1. Posisi operasi bagan harus lebih dijelaskan karena saat ini seringkali mengganggu alur pelayaran.
  1. Sebagai alat tangkap yang sebagian besar berposisi dilaut (jarang berada di dermaga) kemungkinan untuk substitusi energi dari solar, minyak tanah atau gas dirubah menjadi solar cell (energi surya). Bahkan akan menjadi sangat baik jika menggunakan air laut sebagai energi utama.
  1. Selektifitasnya rendah, khususnya ikan teri, bagan apung cukup selektif terhadap ikan ini.
  1. By-catch tinggi, menangkap tidak saja pada target spesies tetapi juga terkadang banyak menangkap ikan non target spesies.
  1. Konsumsi BBM masih  digunakan, dan diharapkan menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan.

Berdasarkan metode dasar penangkapan ikan (Fridman dan Carrothes, 1986) bagan tergolong kategori alat tangkap filtering (FT), sedangkan jika ditinjau dari cara dasar mengendalikan tingkah laku ikan, bagan menggunakan cara atraction (menarik perhatian ikan dengan bantuan lampu).

KAPAL
Kapal ikan adalah kapal yang digunakan dalam kegiatan perikanan yang mencakup penggunaan dalam aktivitas penangkapan ikan atau mengumpulkan sumberdaya perairan, pengelolaan usaha budidaya, serta penggunaan dalam beberapa aktivitas seperti riset, training, dan inspeksi sumberdaya perairan.  Pada kapal perikanan dilakukan kerja menangkap, menyimpan, dan mengangkut ikan (Nomura 1977) vide Suyitno (2009), sedangkan menurut Undang-Undang No.45 Tahun 2009 tentang perikanan, kapal perikanan adalah kapal, perahu, atau alat apung lainnya yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan atau eksplorasi perikanan.
Kapal atau perahu yang digunakan pada alat tangkap bagan apung berfungsi sebagai alat transportasi dari fishing base atau TPI ke fishing ground dan sebaliknya (Effendi 2002). Pada perikanan bagan, perahu mempunyai dua fungsi berbeda sesuai dengan jenis bagan yang digunakan. Untuk bagan tancap, maka fungsi dari kapal adalah untuk membawa nelayan ke bagan dan mengangkut ikan hasil tangkapan bagan. Untuk bagan perahu, kapal yang digunakan berfungsi juga sebagai bagian dari operasi penangkapan ikan. 

ALAT TANGKAP
Bagan merupakan jenis alat tangkap tradisional yang masih banyak digunakan di beberapa perairan Indonesia, terutama pada perairan yang berarus tenang dan terlindung. Bagan apung dioperasikan di daerah pantai dan bersifat pasif, sehingga ketergantungan nelayan terhadap migrasi ikan ke daerah pantai sangat besar.  Bagan apung dibuat dari  rangkaian atau susunan bambu  berbentuk segi empat, pada bagian tengah dari bangunan bagan dipasang jaring yang ukurannya 1 meter lebih kecil dari bangunan bagan.  
Pada dasarnya alat ini terdiri dari bambu dan jaring yang berbentuk persegi empat. Pada keempat sisinya terdapat bambu-bambu yang melintang dan menyilang dengan maksud untuk memperkuat berdirinya bagan, diatas bangunan bagan di bagian tengah terdapat bangunan rumah yang berfungsi sebagai tempat istirahat, pelindung lampu dari hujan dan tempat untuk melihat ikan.  Alat tangkap ini pada umumnya berukuran 8 m x 8 m, sedangkan tinggi dari dasar perairan rata-rata 8 meter.  (Subani et al. 1989).
            Berdasarkan fungsinya, komponen unit penangkapan bagan apung terdiri dari (Effendi 2002) :
a.    Panggung bagan merupakan bangunan berbentuk piramida terpotong, terbuat dari batang bambu yang dirangkai dengan ikatan tali tambang.  Pada bagian atas panggung terdapat rumah bagan dan roller berfungsi sebagai alat penggulung dan pengulur tali pada saat penurunan dan pengangkatan jaring.
b.    Jaring bagan terbuat dari bahan polyprophylene dengan ukuran mata jaring berkisar antara 0,2 – 0,4 inch dengan posisi terletak pada bagian bawah bangunan bagan yang diikatkan pada bingkai bambu yang berbentuk segi empat.  Bingkai bambu tersebut dihubungkan dengan tali pada ke empat sisinya yang berfungsi untuk menarik jaring.  Pada ke empat sisi jaring diberi pemberat sebanyak 4 buah yang berfungsi untuk menenggelamkan jaring dan memberikan posisi jaring yang baik selama dalam air.
c.    Alat bantu yang digunakan adalah petromak, alat penggulung (roller) dan serok.  Petromak berfungsi sebagai pemikat ikan sehingga berkumpul dibawah lampu yang biasa digunakan nelayan adalah sebanyak 3-6 buah.  Setelah ikan tertangkap pada jaring bagan, maka ikan diambil dengan serok dan dimasukkan ke keranjang.
Penempatan bagan dilakukan dengan menancapkan kaki bagan ke dasar perairan atau diapungkan dengan bantuan rakit, perahu,  atau drum bekas. Nelayan menyebut bagan dengan kaki yang ditancapkan ke dasar perairan sebagai bagan tancap. Bagan yang  diapungkan sebagai bagan apung. Bagan tancap hanya dapat dioperasikan menetap pada suatu perairan. Dengan demikian, bagan tancap harus dioperasikan pada perairan yang benar-benar berarus tenang dan bukan daerah yang ramai oleh lalu lintas pelayaran. Adapun bagan apung dapat dioperasikan secara berpindah-pindah tergantung dimana terdapat banyak ikan. Sesekali bagan apung didaratkan di pantai untuk menghindari gelombang besar atau untuk dilakukan perbaikan. 

NELAYAN
Nelayan menurut Subani et al. (1989) adalah orang yang ikut dalam pengoperasian penangkapan ikan secara langsung, maupun tidak langsung, sedangkan menurut UU No.45 Tahun 2009 nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan usaha penangkapan ikan. 
Nelayan bagan yaitu orang yang mengoperasikan bagan, umumnya hanya satu orang dalam satu bagan. Secara umum ada dua kategori nelayan bagan, yaitu nelayan pemilik dan nelayan buruh.  Nelayan pemilik disebut sebagai juragan, yaitu orang yang memiliki alat tangkap bagan.  Nelayan buruh adalah nelayan yang mengoperasikan bagan dengan sistem bagi hasil (Effendi 2002).

METODE PENGOPERASIAN BAGAN APUNG
Junaidi (2001) mengemukakan bahwa bagan apung adalah alat tangkap yang dioperasikan dengan cara dinaikkan atau ditarik keatas dari posisi horisontal yang ditenggelamkan untuk menangkap ikan yang berada diatasnya dengan menyaring air.  Pengoperasian bagan umumnya dilakukan setelah matahari mulai tenggelam.  
Penangkapan dengan menggunakan bagan diawali dengan menurunkan jaring hingga batas kedalaman tertentu.  Selanjutnya lampu dinyalakan untuk menarik perhatian ikan agar berkumpul disekitar lampu yang diletakkan di bawah bagan kemudian lampu dimatikan satu persatu sehingga hanya tersisa satu lampu dibagian tengah jaring bagan, langkah selanjutnya yaitu mengangkat jaring bagan dan hasil tangkapan yang dipindahkan dari jaring ke dalam keranjang-keranjang hasil tangkapan dengan menggunakan serok (Subani et al. 1989).
Bagan sangat mengandalkan cahaya. Oleh karenanya, pengoperasian bagan hanya dapat dilakukan pada malam hari saat bulan mati. Pada kondisi gelap, jenis-jenis ikan yang bersifat fototaksis positif sangat mudah dikumpulkan. Ini berbeda dengan saat bulan terang. Ikan sangat menyebar. Iluminasi cahaya dari bagan yang rendah dibandingkan dengan iluminasi cahaya bulan tidak akan mampu mengumpulkan ikan.

HASIL TANGKAPAN BAGAN
Hasil tangkapan bagan apung selama kurun waktu 1984 sampai 2003 yang dikumpulkan Takril (2005) dari 20 peneliti menyebutkan bahwa hasil tangkapan bagan menunjukkan bahwa ikan hasil tangkapan terdiri dari empat kelompok besar yaitu, pelagis kecil, pelagis besar, demersal dan total spesies  yang tertangkap selama kurun waktu  tersebut berjumlah 39 jenis.
Beberapa spesies dominan yang tertangkap oleh bagan menurut Takril (2005) diantaranya teri (Stolephorus sp), tembang (Sardinella fimbriata), kembung (Rastrelliger spp), selar (Selaroides sp), layang (Decapterus spp), pepetek (Leiognathus sp), layur (Trichiurus savala) dan cumi-cumi (Loligo sp).

PENYEBARAN BAGAN DI INDONESIA
Bagan adalah salah satu jenis alat tangkap yang banyak digunakan nelayan untuk menangkap ikan pelagis kecil.  Unit penangkapan bagan pertama kali diperkenalkan oleh nelayan Bugis – Makasar sekitar tahun 1950-an.  Selanjutnya dalam waktu relatif singkat alat tangkap ini sudah dikenal di seluruh Indonesia. Perkembangan bagan yang begitu pesat di perairan Indonesia merupakan indikasi bahwa unit penangkapan bagan memiliki karakteristik yang sesuai dengan masing - masing daerah dimana bagan dioperasikan (Sudirman 2003).  Berdasarkan cara pengoperasiannya bagan dikelompokkan dalam jaring angkat (lift net), namun karena menggunakan cahaya lampu untuk mengumpulkan ikan maka disebut light fishing (Subani et al. 1989).
Komisi pengkajian stok sumberdaya ikan Indonesia yang dimulai pada tahun 1997 telah membagi batas-batas dan luasan wilayah pengelolaan perikanan (wpp). Pembagian tersebut bertujuan untuk membantu menghitung potensi dan penyebaran sumberdaya ikan. Wilayah pengelolaan perikanan tersebut terbagi menjadi 9 (sembilan) wilayah, dan memilki batas daratan, perairan, lintang (derajat) dan atau bujur (derajat), dengan nama wilayah  yang berbeda-beda, yaitu: Selat Malaka, Laut Cina Selatan dan Natuna, Laut Jawa, Selat Makassar dan Laut Flores, Laut Banda, Laut Arafura, Laut Seram dan Teluk Tomini, Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik, dan terakhir Samudera Hindia, dengan total luasan wilayah pengelolalan perikanan Indonesia sebesar 5.595.000 km persegi (Komnas Pengkajian Stok SDI Laut, 2008).
Nama lokal dan jenis alat tangkap jaring angkat yang digunakan nelayan di wilayah pengelolaan perikanan dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Nama Lokal Alat Tangkap Jaring Angkat
Sumber: Sebaran Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia, 2007

BAGAN DAN KAITANNYA DENGAN KEGIATAN PERIKANAN YANG BERTANGGUNG JAWAB

Menurut Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) yaitu terdapat 9 (sembilan ) kriteria suatu alat tangkap dikatakan ramah terhadap lingkungan, antara lain :
1. Mempunyai selektifitas yang tinggi
2. Tidak merusak habitat
3. Menghasilkan ikan yang berkualitas tinggi
4. Tidak membahayakan nelayan
5. Produksi tidak membahayakan konsumen
6. By-catch rendah
7. Dampak ke biodiversty rendah
8. Tidak membahayakan ikan-ikan yang dilindungi
9. Dapat diterima secara sosial
Selektivitas adalah kemampuan suatu alat tangkap untuk menangkap spesies ikan tertentu dari suatu populasi campuran (Hamley, 1975; Friedman, 1986 dalam Baskoro, 2012). Sampai saat ini selektivitas digunakan sebagai alat penting dalam pengelolaan sumberdaya perikanan karena mudah dalam penggunaannya. Lembaga pangan dunia (FAO) telah mengeluarkan petunjuk pengelolalaan perikanan yang baik dengan menjelaskan betapa pentingnya penggunaan alat dan metode penangkapan yang selektif untuk mengurangi sampah perikanan (by-catch) berupa hasil tangkapan yang di buang lagi ke laut, hasil tangkapan bukan target (non-target spesies), serta dampaknya terhadap spesies tersebut. Himbauan ini bertujuan untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan yang pada akhirnya dapat memberikan jaminan keberlanjutan kegiatan perikanan (Baskoro, 2012).
Bagaimana dengan alat tangkap bagan? Berdasarkan penelitan Sudirman 2011 yang dilakukan di perairan Makassar terhadap bagan tancap, performance selektifitas bagan tancap sangat buruk, baik dilihat dari ukuran maupun jenis ikan yang tertangkap. Hal ini ditunjukkan dengan sempitnya batas ukuran antara yang tertahan dengan yang lolos. Dari ketiga jenis spesies yang lolos, hanya ikan teri yang dapat di kalkulasi selektifitasnya dan menunjukkan bahwa pada ukuran 2,1cm ikan teri masih dapat lolos pada mata jaring, sedangkan udang masih lolos pada ukuran 1,9 cm dan ikan peseng lolos pada ukuran 2 cm. untuk komposisi jumlah hasil tangkapan harian alat tangkap bagan tancap selama penelitian yaitu : (primary catch sebesar : 75 %, Bycatch sebesar : 22 % dan Discard catch : sebesar 3 %). Hal ini menunjukkan bahwa bagan tancap kurang ramah terhadap lingkungan. Menurut Yuda 2012, berdasarkan penelitian yang dilakukan di perairan teluk Palabuhanratu, alat tangkap bagan apung tergolong kurang ramah lingkungan karena ikan yang tertangkap lebih banyak didominasi oleh ikan yang belum dewasa (56,44%) dan bukan ikan tujuan utama (45,33).
Dengan mata jaring yang kecil dan bisa menangkap ikan dengan ukuran kecil, maka akan mengganggu biodiversitas dari ikan lain.  Hal ini tidak sulit untuk dicegah karena nelayan memiliki kemampuan yang rendah dalam memilih mana ikan yang layak tangkap tau tidak. Contohnya adalah ikan hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu yang merupakan ikan tongkol ukuran panjang 10 cm (baby tuna). Sesuai dengan tropic level dari makhluk hidup dimana ikan kecil ada, maka ikan besar akan datang sebagai pemangsa. Ikan-ikan baby tuna ini sebenarnya ada kemungkinan akan memangsa ikan atau planton yang ada disekitar ikan teri, namun tertangkap. Dari segi selektivitas alat tangkap, perikanan bagan memang perlu ada perbaikan dari segi operasi penangkapan.
Untuk konstruksinya sendiri bagan tidak memiliki permasalahan berarti terhadap ekosistem. Hanya keberadaan bagan seringkali mengganggu alur pelayaran kapal yang akan melakukan operasi penangkapan. Perikanan bagan saat belum teratur dalam pelaksaannya, sebagai contoh perikanan bagan di perairan Palabuhanratu. Bagan di Palabuhanratu diletakkan tidak teratur dan  seperti sesuka nelayan. Posisi yang berdekatan serta berada disekitar perairan pantai menyebabkan nelayan lain yang memiliki armada kecil dan sulit untuk melakukan penangkapan yang lebih jauh akan kesulitan. Perlu ada pengaturan jarak atau lokasi yang memang diperbolehkan untuk bagan. Hal ini terkait dengan kondisi nelayan yang memang memiliki pengetahuan yang rendah dalam hal selektivitas.
Nelayan di Indonesia tidak memiliki pelatihan sebelumnya, siapa saja bisa menjadi nelayan. Berbeda dengan nelayan yang berada di luar negeri khususnya di Uni Eropa dimana orang yang akan menjadi nelayan harus mengikuti kursus (short course) sehingga mempunyai keahlian dan kesadaran dalam menjaga lingkungan. Tidak hanya dalam melakukan operasi penangkapan ikan kesadaran nelayan rendah. Tetapi saat melakukan penanganan ikan hasil tangkapan di atas bagan.
Di beberapa bagan di daerah perairan Sumatera bagan seringkali dilengkapi dengan rumah bagan yang mempunyai tempat pengolahan. Penanganan ika hasil tangkapan yang dilakukan dapat berupa perebusan ikan hasil tangkapan. Terkadang limbah perebusan ikan hasil tangkapan tidak ditampung dan dibuang di tempat limbah, tetapi langsung dibuang ke laut.keadaan ini bisa saja menjadi pencemar bagi ekosistem laut.
Salah satu ciri kegiatan penangkapan ikan yang ramah lingkungan yang lainnya adalah memiliki armada yang hemat energi dan tidak menimbulkan polusi. Sampai saat ini dalam operasi penangkapan ikan bagan, masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Hal ini harus dapat diatasi sehingga kedepan mampu menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan seperti hydro energy, atau energi surya.

Tabel 2. Ciri Kegiatan Penangkapan Ikan yang Ramah Lingkungan



SISTEM PENANGKAPAN IKAN DENGAN ALAT TANGKAP BAGAN

1) Control Centre ; Pada perikanan Bagan terbagi atas beberapa jenis yaitu bagan tancap, bagan perahu dan bagan apung. Pada umumnya beberapa jenis bagan ini control centre kendalikan oleh satu orang yaitu nelayan bagan.
2) Fish Locating Device ; pada perikanan Bagan pada umumnya menggunakan alat bantu yaitu lampu sebagai alat penarik perhatian ikan yang memiliki sifat fototaksis positif dan serok yang berfungsi membantu dalam pengambilan hasil tangkapan pada saat jaring diangkat.
3) Fish Capture Device ; alat yang digunakan untuk mengumpulkan ikan pada alat tangkap bagan yaitu lampu.
4) Gear Control Agent  ; pada alat tangkap Bagan yaitu nelayan bagan itu sendiri.
5) Fishing Gear Monitor  ; pada perikanan Bagan yaitu melihat banyaknya ikan yang berkumpul dibawah lampu (catchable area) kemudian kestabilan nelayan dalam penarikan jaring.
6) Fish Behaviour Modifier ; pada dasarnya perlakuan dalam mengoperasikan alat tangkap bagan yang dapat dimodifikasi yaitu intensitas cahaya, jenis jaring, mesh size, tudung lampu (reflector), posisi keberadaan lampu pemanggil dan diameter penarik jaring (line hauler).
7) Behaviour control agent ; pada perikanan Bagan yaitu nelayan bagan itu sendiri.
8) Behaviour Modifier Monitor ; menggunakan modifikasi kaca yang digunakan oleh nelayan tradisional.

Tabel 3 Metode Tertangkapnya Ikan Dengan Alat Tangkap Bagan

REKOMENDASI
Saat ini bagan memiliki tingkat selektivitas yang rendah karena mampu menangkap ikan dengan berbagai ukuran dan berbagai jenis. Terkadang ikan yang tertangkap merupakan ikan yang belum layak tangkap. Bagan yang dioperasikan diwilayah pesisir memang untuk saat ini tidak menimbulkan dampak yang signifikan terhadap perkembangan perikanan secara umum, akan tetapi jika dibiarkan terlalu lama  maka akan berdampak. Maka, untuk mengatasi kemungkinan yang akan terjadi dimasa yang akan datang, beberapa perbaikan dalam perikanan bagan bisa dilakukan melalui langkah sebagai berikut:
KESIMPULAN
Pada alat tangkap bagan ada beberapa kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan, diantaranya adalah:
Dari ketiga kriteria tersebut solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya adalah untuk selektifitas dan by-catch yang rendah diperlukan perbaikan mesh size. Sedangkan untuk konsumsi BBM yang tinggi dianjurkan menggunakan solar cell sebagai alternatif yang perlu dicoba .

REFERENSI

Baskoro, M. S dan Yusfiandayani, R. 2012. Metode Penangkapan Ikan. Dept. PSP, FPIK IPB. Bogor.
Effendi I. 2002. Pengaruh Penggunaan Rumpon pada Bagan Apung Terhadap Hasil Tangkapan. [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 60 hal.
Junaidi. 2001. Bagan Perahu di Labuan Bajo, Flores : Rancang Bangun dan Metode Pengoperasiannya. [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. 66 hal.
Lucky Kusuma Yuda, Dulmi’ad Iriana dan Alexander M. A. Khan. 2012. Tingkat keramahan lingkungan alat tangkap bagan di perairan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Jurnal kelautan dan perikanan Vol 3, No. 3 Sept 2012
Puspito, Gondo. 2008. Lampu Petromaks: Manfaat, Kelemahan dan Solusinya pada Perikanan Bagan. Dept. PSP, Fak. Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Bogor
Sasmita, W dan Widodo. 2007. Sebaran Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang.
Sasmita, W dan Widodo. 2007. Sebaran Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang.
Subani W dan Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Edisi Khusus Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan laut.BPPP, Dept. Pertanian. Jakarta
Sudirman dan Mallawa, A. 2004.Teknik Penangkapan Ikan.Rineka Cipta.Jakarta
Sudirman, Abdul Rahim Hade dan Sapruddin. 2012. Perbaikan tingkat keramahan lingkungan alat tangkap bagan tancap melalui perbaikan selektivitas mata jaring. Bulletin Penelitian LP2M Universitas Hasanuddin, Vol.II, No.1-Maret 2011.
Suyitno SP. 2009. Keragaan Unit Penangkapan Ikan di Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton. [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 61 hal.
Takril. 2005. Hasil Tangkapan Sasaran Utama dan Sampingan Bagan Perahu di Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. [Skripsi]. Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar